Cerita Sex Di Kampus Terbaru

ITIL Online Live Video's memek
www.dewasahot17.com - Cerita Sex, Cerita Dewasa Terbaru, Cerita Mesum, Cerita Ngentot, Gambar Foto Seks - Ngentot Di Kampus Terbaru. Jam 7 kurang, Bobby  sedang berjalan menyusuri koridor lantai empat, gedung fakultas ekonomi. Tangannya memegang sapu dan ekrak  yang akan dia gunakan untuk menyapu ruang C-4.1.1 yang baru selesai dipakai untuk kuliah malam. Langkahnya makin mendekati ruang yang lampunya masih menyala itu. Terhenyak dirinya begitu membuka pintu dan menemukan di dalam kelas itu masih tertinggal seorang gadis. Gadis itu tersenyum manis padanya lalu meneruskan mencatat sesuatu di buku catatannya.



“Eehhmm…malam Non, kok belum pulang ?” sapanya
“Sebentar lagi Pak, nanggung lagi nyalin catatan temen, enngg…kelasnya mau dikunci yah Pak ?”
 “Iya toh Non, kan udah malem !” jawab Bobby  dengan mata mencuri-curi pandang ke arah lekuk tubuh gadis itu.
Penampilan si gadis yang memakai kemeja kuning lengan pendek berbahan tipis yang kancing atasnya terbuka hingga memperlihatkan belahan dadanya serta rok mininya yang membuat pahanya yang putih mulus itu terekspos bebas tentu saja membuat Bobby  menelan ludah melihatnya.
“Hhmm…kalo gitu Bapak beresin kelas aja dulu, ntar kalau udah selesai kita sama-sama keluar, soalnya ini catatan mau saya kembaliin ke yang punya hari ini juga, gapapa kan Pak, saya gak ganggu kan ?” katanya dengan senyum manis.
gairah sex, area sex, cerita sex, cerita dewasa, cerita mesum, cerita hot, cerita bokep. cerita ngentot, cerita ngeseks,cerita seks, cerita sex terbaru, cerita seks terbaru, cerita dewasa terbaru, cerita bokep terbaru, cerita ngentot terbaru, cerita mesum terbaru, sex hot, sex hot terbaru, cerita lucah, cerita lucah 2016, mesum, ngentot, bokep, hot, cewek bugil terbaru, cewek bugi 2016, vagina perawan, perawan desa, video sex 2016, video mesum 2016, video bokep 2016, video ngentot 2016, video hot 2016, video dewasa, spg bispak, ayam kampus, skandal sex Pns, Tips bercinta, pesta sex, cerita seks 2016, cerita seks terbaru, cerita seks, foto hot, foto hot terbaru, foto hot 2016, kisah sex, kisah seks,

Cerita Mesum Terbaru, Maka Bobby  pun membiarkan gadis itu meneruskan mencatat sementara dia mulai membersihkan kelas itu. Tentu ini saja Bobby  tidak terganggu malah sebaliknya merasa senang karena sudah kerja seharian penuh ada objek untuk refreshing sejenak. Sambil menyapu matanya hampir tidak pernah lepas dari gadis itu, diperhatikannya bentuk tubuhnya yang ideal dan membayangkan dibalik pakaiannya itu, wajahnya cantik dengan rambut rambut hitam pendek sebahu ala Maiko Yuki, artis JAV era 90′an. Mudah saja bagi Bobby  untuk memperkosanya saat itu juga, tapi ia paling tidak suka kalau korbannya belum takluk sepenuhnya yang biasa dia intimidasi dengan skandal-skandalnya, lagipula menyerang secara frontal begitu risikonya tinggi, bisa-bisa si korban histeris atau melaporkannya. Dalam hal ini Bobby  sangat berhati-hati agar jangan sampai menimbulkan masalah baru baginya kelak. Gadis itu pun cuek saja dengan keberadaan Bobby , dia terus menulis tanpa menghiraukan tatapan liar Bobby . Bahkan ketika Bobby  sedang menyapu di depannya, entah sengaja atau tidak, dia menyilangkan kakinya sehingga mata Bobby  makin liar  melihat pahanya yang mulus lagi jenjang itu.

gairah sex, area sex, cerita sex, cerita dewasa, cerita mesum, cerita hot, cerita bokep. cerita ngentot, cerita ngeseks,cerita seks, cerita sex terbaru, cerita seks terbaru, cerita dewasa terbaru, cerita bokep terbaru, cerita ngentot terbaru, cerita mesum terbaru, sex hot, sex hot terbaru, cerita lucah, cerita lucah 2016, mesum, ngentot, bokep, hot, cewek bugil terbaru, cewek bugi 2016, vagina perawan, perawan desa, video sex 2016, video mesum 2016, video bokep 2016, video ngentot 2016, video hot 2016, video dewasa, spg bispak, ayam kampus, skandal sex Pns, Tips bercinta, pesta sex, cerita seks 2016, cerita seks terbaru, cerita seks, foto hot, foto hot terbaru, foto hot 2016, kisah sex, kisah seks,

Kisah Sex Terbaru, “Enngg…Pak diluar sana emang udah ga ada siapa-siapa lagi yah ?” gadis itu tiba-tiba bertanya demikian.
“Iya Non, udah pulang semua, tinggal Non sendirian, ga takut apa Non ?” jawab Bobby  dengan terus menyapu.
“Ngga lah, takut apa, sekarang kan ga sendirian, lagi ada Bapak” jawabnya tersenyum
 “Pak bisa tolong tutup pintunya anginnya ga enak panas, bikin gerah nih !” pintanya karena kebetulan duduk dekat pintu, dan memang cuaca hari itu tidak nyaman, panas dan berangin. Kipas angin yang menggantung di langit-langit kelas itulah yang membuat cuaca di situ lebih enak.
Bobby  menutup pintu itu, dia heran melihat gadis itu kok bersikap ramah bahkan cenderung menggoda padanya, tidak seperti warga kampus yang umumnya bersikap acuh tak acuh, tidak tahukah dia bahwa yang bersama dengannya di ruang itu adalah maniak pemerkosa yang sedang menghantui kampus ini. Ketika dia menyapu ke sisi lain sekitar gadis itu terlihat sedikit celana dalam yang dipakainya, warnanya hitam seperti warna branya yang terlihat melalui kemejanya yang tipis. Bobby  benar-benar ngiler melihat pemandangan itu, ingin rasanya dia membelai paha mulus itu, lalu meraba hingga ke pangkalnya. Saat dia menyapu lebih dekat lagi, tiba-tiba dompet gadis itu terjatuh dari meja pada bangku kuliah itu. Secara spontan Bobby  pun membungkuk untuk memungutinya, gerakan Bobby  ketika mau berdiri dan mengembalikan benda itu mendadak terhenti karena tertegun paha mulus itu telah berada dua jengkal dari pandangannya sehingga celana dalam yang tadi terlihat sekilas itu makin terlihat jelas.

“Ngeliat apa Pak ?” tanyanya dengan cuek “pegang aja daripada bengong gitu Pak !” sebelum Bobby  sempat menjawab karena sedang terpukau, gadis itu sudah lebih dulu meraih tangan Bobby  yang memegang dompet, tangan satunya mengambil dompetnya dan menaruhnya kembali di meja, lalu dia letakkan tangan Bobby  itu di pahanya.
Sungguh Bobby  tidak menyangka gadis itu memang sengaja menggodanya sehingga begitu gadis itu memberi lampu hijau padanya birahi yang sejak tadi ditahannya tercurah deras bagai bendungan bobol. Bobby  segera mengelusi sepanjang kaki putih mulus itu dengan gemasnya, dari betis lalu ke paha yang tertutup roknya. Gadis itu menggeliat saat tangan Bobby  menyentuh bagian selangkangannya yang masih tertutup celana dalam.
“Hehehe…Non emang sengaja godain saya yah !” katanya menyeringai
“Eemmhh..iya Pak, puasin saya yah, saya tau kok Bapak dari tadi mau macem2in saya, ya kan ?” desisnya dengan senyum menggoda.
Kata-kata itu membuat Bobby  makin terangsang, dia semakin berani menggerayangi tubuhnya. Tangannya yang tadi masih meraba-raba dari luar celana dalam mulai menyusupkan jarinya lewat pinggiran celana dalam itu, dirasakannya bulu-bulu dibaliknya dan juga ada basah-basah pada bibir vaginanya, gadis itu pun rupanya sudah horny sejak tadi.

Bobby  kemudian menarik celana dalam itu dari tempatnya.  gadis itu juga meluruskan kakinya membiarkan celana dalam itu lolos dengan mudah. Kemudian dia memasukkan jari tengan dan telunjuknya ke tengah vagina gadis itu, jari-jari itu mulai mengorek-ngorek vagina sehingga gadis itu mendesah dan menggeliat dibuatnya, kedua pahanya terkatup mengapit tangan Bobby  menahan rasa geli, dengan begitu Bobby  dapat merasakan kehalusan dan kelembutan kulit paha itu. gairahsex.com  Tangan Bobby  yang satunya merambat ke atas melepaskan satu-persatu kancing bajunya hingga terbuka semua memperlihatkan bra hitam berukuran 36. Gadis itu berinisiatif melepaskan kait branya yang terletak di dada antara dua cupnya sehingga menyembul lah payudara montok berputing merah dadu itu. Diusap-usapnya gumpalan daging kenyal itu dengan tangan kanan. Jarinya memilin-milin puting itu sehingga makin tegang, sementara tangan kirinya intens membelai  vagina gadis itu. Desahan nikmat terdengar dari mulut si gadis, matanya merem-melek disertai nafas yang memburu.
“Non suka kan diginiin hehehe !” kata Bobby  yang merasa berhasil mempermainkan birahi gadis itu.
“Iyah…terus Pak, terushh…!” desah gadis itu menggenggam tangan Bobby  yang memegang payudaranya seolah minta tangan itu menggerayanginya lebih liar.

Gadis itu lalu merasakan kakinya dibuka dan basah pada vaginanya. Ternyata Bobby  sudah membenamkan wajahnya disana. Lidahnya yang panas menjilat-jilat vaginanya disertai gerakan menyedot.


“Uuuhh…hebat banget main oralnya !” gumam gadis itu dalam hati merasakan kedahsyatan permainan lidah Bobby .
Gadis yang sudah terangsang berat itu mengelus-elus kepala Bobby  seraya membuka pahanya lebih lebar, kepalanya menengadah menatap langit-langit. Namun ketika mendaki puncak gairahnya itu Bobby  malah menghentikan jilatannya sehingga gadis itu merasa tanggung. Ya, memang itu sengaja dilakukan Bobby  dengan maksud mempermainkan birahi si gadis agar secara utuh menikmati ronde berikutnya. Kini Bobby  berdiri di depan gadis itu memelorotkan celananya dan mengeluarkan penisnya yang sudah mengacung tegak. Sejenak si gadis terpana melihat keperkasaan penis Bobby  yang hitam berurat itu, lalu dia menggerakkan tangan menggenggam penis itu, rasanya hangat dan berdenyut karena yang punyanya sedang terangsang, lalu tangannya mulai mengocok batang itu.
“Ohhh…Non, enak banget !” desahnya sambil membelai rambut gadis itu.

Gadis itu dengan bernafsu menjilati seluruh batang penis Bobby , terkadang buah pelirnya pun diemut. Kemudian dia menyibak rambutnya yang sudah agak kusut dan membuka mulut mengarahkan penis itu ke mulutnya. Bobby  mengerang nikmat, gadis ini berbeda dari korban Bobby  lainnya yang umumnya pasif atau melakukannya rata-rata karena terpaksa sehingga tentu beda sensasinya. Teknik oral seks gadis ini sungguh profesional, batang penis itu dikulum-kulum dalam mulutnya dan juga diputar-putar dengan lidahnya, tangannya pun memijati buah zakarnya dengan lembut. Saking enaknya, pertahanan Bobby  langsung jebol dalam waktu kurang dari sepuluh menit. Wajahnya menegang dan cengkeramannya pada pundak gadis itu makin mengeras. Si gadis yang menyadari lawan mainnya akan segera keluar mempergencar serangannya, kepalanya maju mundur makin cepat dan crooot…crooot …sperma Bobby  menyemprot dalam mulutnya. Dengan lihainya gadis itu menelan dan menyedot cairan kental itu tanpa ada yang menetes dari mulutnya. Sungguh kenikmatan oral terdahsyat yang dialami Bobby  sehingga membuatnya melenguh tak karuan.
“Uoohh…sedot terus Non, enak…enak…!”
Gadis itu juga melakukan cleaning servicenya dengan sempurna, seluruh batang itu dia bersihkan dari sisa-sisa sperma .Setelah mulutnya lepas tak terlihat sedikitpun cairan putih itu menetes dari mulutnya. Sungguh hisapan yang sempurnya, demikian pikir Bobby .

Setelah puas menikmati service mulut gadis itu, Bobby  menarik lengannya agar bangkit dari kursi itu dan lalu disandarkannya ke tembok terdekat. Baju dan branya telah terbuka ditambah rok mininya tergulung ke atas memperlihatkan organ-organ kewanitaanya.
“Non, kok Non berani amat berbuat gini di kampus, Non dari tadi emang udah rencana gini kan ?”
“Bapak juga dah kepengen kan daritadi ngeliatin saya terus, makannya Bapak sekarang harus muasin saya !” katanya dengan horny, tatapan mata dan nada bicaranya memperlihatkan dirinya telah dilanda birahi.
Bobby  menjawabnya dengan memasukkan jari ke dalam vagina gadis itu yang membuat si gadis tersentak dan mendesah. Kemudian mulutnya juga nyosor melumat payudara kanan si gadis. Dengan rakus mulutnya menyedoti payudara montok itu sesekali giginya menggigit ringan putingnya yang menggemaskan. Si gadis memejamkan mata menikmati serangan si penjaga kampus itu sambil mendesah dan meremasi rambut Bobby . Bobby  juga mengusap-usapkan jari pada klitorisnya sehingga sigadis makin diamuk birahi, membuat tubuhnya bergetar.

Tak lama kemudian si gadis merasakan jari yang mengorek kemaluannya dikeluarkan lalu berganti sebuah benda tumpul lain yang menekan-nekan belahan bibir kemaluannya. Bobby  mengangkat kaki kanan gadis itu hingga sepinggang, lalu pelan-pelan dia tekan masuk penisnya ke vagina yang telah basah itu.
“Uuhh…!” si gadis merintih sambil memeluk Bobby  lebih erat merasakan setengah dari batang itu melesak masuk ke vaginanya yang sudah tidak perawan itu “Gila keras amat, kaya dimasukin pentungan aja” katanya dalam hati.
“Enak Non ?” tanya Bobby  berhenti sejenak memperhatikan ekspresi wajah si gadis yang meringis menahan nyeri.
Si gadis mengangguk dan setelah ekspresi wajahnya kembali normal, Bobby  mulai menggerakkan penisnya keluar masuk vagina si gadis. Tubuhnya tersentak-sentak karena Bobby  dengan penuh nafsu menghujam-hujamkan batang kemaluannya dalam jepitan vagina si gadis, tangannya meremas bongkahan pantatnya dengan gemas. Bobby  lalu mendekatkan wajah hendak mencium bibir tipis si gadis. Kalau korban-korban Bobby  umumnya menunjukkan penolakan bila hendak dilumat bibirnya, gadis ini justru menyambut pagutan bibir Bobby  dengan penuh gairah. Permainan lidahnya bahkan lebih dahsyat dari Bobby , mereka terlibat adu lidah yang panas sampai air liurnya menetes-netes dari bibir masing-masing. Erangan-erangan tertahan terdengar di tengah percumbuan itu.

Bobby  terus menggenjot gadis itu sambil terlibat dalam ciuman yang panas dan cukup lama, hampir lima menit. Begitu mereka melepas bibir, nafas mereka sudah demikian memburu sehingga berusaha mengambil udara segar. Bobby  lalu mengangkat kaki si gadis yang satunya sehingga tubuhnya tidak berpijak di tanah lagi. Si gadis juga memeluknya lebih erat dan melingkarkan kakinya di pinggang Bobby  sementara kedua pahanya disangga si penjaga kampus itu. Hujaman penis itu makin terasa dalam dalam posisi ini.
“Ohhh…terushh…terus…Pak !” gadis itu menceracau karena merasakan sudah mau mencapai puncak.
Vagina gadis itu makin basah saja sehingga penis Bobby  bergerak makin lancar karena cairan itu melicinkan dinding kemaluannya. gairahsex.com  Tubuh keduanya bergoyang kian liar, beradunya kedua jenis kelamin itu menimbulkan bunyi seperti suara tepukan bercampur suara kecipak air akibat pengaruh cairan kewanitaan yang membasahi daerah itu. Bercak keringat nampak membasahi baju keduanya. Setelah bergumul sekitar lima belas menit, akhirnya Bobby  mengirimkan hentakan yang cukup keras disertai lenguhan panjang. Demikian pula halnya si gadis yang mencapai klimaks secara bersamaan, matanya membeliak dan tubuhnya kelojotan secara fantastis.

Gadis itu merasakan semprotan hangat di rahimnya, sementara di selangkangannya cairan vagina itu bercampur dengan sperma Bobby  yang meleleh keluar. Hujaman Bobby  makin lemah, terlebih dulu dia turunkan pelan-pelan kaki kanan si gadis lalu sebelah kiri, terakhir dia menarik penisnya. Tubuh si gadis yang telah lemas melorot hingga terduduk di lantai, dia menghirup nafas dalam-dalam dan menghembuskannya lagi. Wajahnya menunjukkan kepuasan akan pemenuhan hasrat liarnya.
“Hebat…goyangan Non bener-bener top, bikin Bapak ketagihan deh !” komentar Bobby  “Omong-omong Non namanya siapa kalau boleh tau, apa Non emang sengaja disini buat ginian ?”
Si gadis memperkenalkan diri sebagai Joane (20 tahun), sejak awal memang dia mempunyai niat menggoda siapapun yang masuk ke kelas itu. Seorang gadis hyperseks, dia telah menikmati macam-macam petualangan seks, menjual diri ke om-om, menjadi selingkuhan, menggoda dosen untuk mendongkrak nilai, semua pernah dia lakoni. Hampir semua teman-teman cowoknya pernah merasakan kehangatan tubuhnya. Malam itu, kebetulan dia ingin mencoba pengalaman baru yaitu sex with stranger dengan siapapun masuk ke ruang itu dan itu terlaksana. Semuanya dia lakukan semata-mata hanya untuk memenuhi kesenangan saja, bukan seperti pelacur yang melakukannya demi desakan ekonomi, dia berasal dari keluarga berada sehingga tidak ada motif ekonomi dibaliknya. Kurangnya perhatian orangtua yang selalu sibuk dan pergaulannya yang bebas menjerumuskannya menjadi gadis yang hedonis seperti itu.

“Setelah ini kita tidak ada hubungan apa-apa lagi, kalau ketemu anggap aja kita ga saling kenal, ok !” kata Joane datar sambil mengancingkan kembali bajunya.
Setelah memasukkan barang-barangnya ke dalam tas dan menyisir rambutnya, dia pamit dan memberikan ciuman perpisahan di pipi Bobby  lalu berjalan keluar pintu.
“Nggak salah saya ketemu Bapak malam ini, makasih yah, good bye !” demikian salam perpisahannya setelah mengecup pipi pria itu.
Bobby  benar-benar puas malam itu, baru pernah dia ketemu yang seagresif ini, mungkin di antara budaknya yang bisa dibandingkan dengan gadis itu cuma Hesty (sex in campus 5), si ayam kampus, yang bersedia melakukannya juga dengan sukarela dan juga bersikap proaktif. Setelah menghabiskan rokoknya, Bobby pun meneruskan tugasnya membersihkan kelas itu dan pulang dengan puas. Keesokan harinya, seperti yang telah dikatakan kemarin, Joane bersikap cuek ketika berpapasan dengan Bobby . Hari ketiga, Bobby  bertemu lagi dengannya dekat toilet.
“Non, kita gituan lagi yuk, asyik banget yah waktu itu !” katanya terkekeh.
Joane hanya melotot padanya lalu berlalu dengan memasang sikap judes, sikapnya sekarang sungguh berbeda dari malam itu.

Hari keempat, kembali Joane berpapasan dengan Bobby , kali ini di lift pada jam dua belasan yaitu saat-saat sibuk. Saat itu, Joane sedang berada di dalam lift yang juga dipenuhi mahasiswa/i lain. Di tingkat dua lift berhenti dan Bobby  masuk ke dalam, di tangannya memegang sapu panjang. Wajah Joane menegang melihat penjaga kampus itu memasuki lift, dia tidak sempat lagi keluar karena lift cukup ramai sementara posisinya di dekat sudut belakang. Terlebih Bobby  masuk dan mengambil posisi di sebelahnya. Jantung Joane semakin berdegub dan berharap lift cepat membuka jadi dia bisa segera menjauh dari pria ini karena merasa tidak nyaman terus dibayangi olehnya. Pintu lift menutup dan meneruskan perjalanannya ke atas. Tiba-tiba Joane merasa sesosok tangan kasar merabai pahanya belakangnya yang saat itu memakai rok mini dari bahan jeans longgar. gairahsex.com  Dia terkejut tapi tidak mungkin berteriak karena malah akan membuatnya malu, apalagi kalau pria ini omong macam-macam di depan orang. Ditepisnya tangan itu, namun tangan itu kembali lagi dengan serangan yang lebih berani. Dengan wajah kesal Joane menoleh ke sebelahnya, Bobby  pasang wajah biasa saja tapi tangan jahilnya terus beraksi, ingin rasanya Joane menamparnya tapi situasinya sangat tidak memungkinkan. Suasana di lift yang cukup padat itu riuh dengan obrolan para penumpang sehingga tidak ada yang memperhatikan di sudut itu sedang terjadi pelecehan seksual.

Susah payah akhirnya Joane berhasil merubah posisi badannya, dia memutar posisi badannya hingga kini menghadap Bobby  yang masih berdiri menyamping darinya sehingga terlepas dari tangan Bobby  yang merabai pahanya. Dia berpikir dengan posisi begitu Bobby  tidak mungkin grepe-grepe lagi, tapi dia salah, Bobby  malah bergeser sedikit ke samping makin memepetnya, lalu tangannya kini mendarat di paha depannya.
“Bangsat…tau gini tadi pake celana panjang !” omelnya dalam hati
Melihat korbannya yang tidak bisa berbuat banyak, tangan Bobby  semakin berani masuk ke dalam mengelus paha dalamnya hingga menyentuh daerah sensitif Joane yang tertutup celana dalam. Joane menggigit bibir menahan desahan ketika jari Bobby  mengelus bagian tengah kewanitaannya. Marah sekaligus terangsang dirasakannya saat itu, marah karena pria ini dengan tidak tahu malu meminta jatah lagi, terangsang karena sensasi aktivitas seksual di tempat umum secara sembunyi-sembunyi seperti ini memang hanya pernah dia lihat di film. Matanya menatap tajam pada Bobby  seolah menyuruhnya berhenti, tapi Bobby  tetap berlagak bodoh seolah tak terjadi apa-apa.
“Sialan kenapa malah terus !” omelnya dalam hati lagi ketika lift ternyata tidak berhenti di lantai berikutnya, perjalanan ini terasa panjang baginya karena harus menahan siksa birahi, wajahnya melihat sekeliling dengan hati was-was berharap tidak ada yang melihat. Cerpen Sex

Jari-jari itu menyusup lewat pinggir celana dalamnya dan mengusap bibir vaginanya sehingga tentu saja dia makin tersiksa, matanya sampai terpejam-pejam sambil susah payah bertahan agar tidak mengeluarkan suara aneh. Syukurlah di lantai empat/ lantai terakhir gedung itu, lift membuka, semua keluar termasuk Joane dan Bobby . Joane seharusnya masuk ke kelas, namun dia mengikuti Bobby  yang menuju ke sebuah kelas kosong yang mau dibersihkannya, dia mau menegur pria itu atas tindakannya yang kelewatan itu. Bobby  bukannya tidak tahu gadis itu mengikutinya dan dia memang berharap begitu, karenanya dia terus saja berjalan santai ke tempat tujuannya.
“Kenapa Non, kok ngikutin saya terus, masih kurang emang !” sahut Bobby  cengengesan sambil menggulung kabel proyektor.
“Heh, Pak saya kan udah bilang yah kalau hubungan kita tuh cuma malem itu aja, kalau ketemu jaga dong sikap Bapak, ngerti ga sih !” Joane dengan marah menuding padanya.
“Lho, kan Non katanya puas banget sama saya waktu itu, Bapak kan cuma mau muasin Non lagi, gitu aja kok” Bobby  dengan santainya meneruskan pekerjaannya “Ayo dong, Non, saya juga seneng kok, boleh kan ?”
“Pak, saya peringatin yah, jangan! udah dikasih hati minta jantung, atau saya laporin Bapak supaya dipecat !” gertak Joane yang darahnya sudah mendidih.
“Tapi Non seneng kan !” ledeknya “nih buktinya lendir siapa yah ini ?” sambil menunjukkan dua jarinya yang masih basah bekas mengelus-elus bibir kemaluan barusan.
“Emmmhhh…enaknya, manis kaya orangnya !” dengan gaya menjijikkan Bobby  menjilati menjilati jarinya yang berlumur cairan Joane itu.
Joane memandang jijik tingkah pria itu, lalu membalikkan badan dan keluar dari ruang itu dengan marah, tadinya dia sudah mau membanting pintu ruang itu, tapi karena di sekitar situ masih ada orang lain dia mengurungkan niatnya, tangannya terkepal keras menahan emosi sambil berjalan ke kelasnya. Dia hilang konsen mengikuti kuliah hari itu karena masih kesal memikirkan hal yang barusan, namun tak dapat disangkal kejadian di lift tadi sempat dia nikmati juga sehingga pikirannya kini agak melayang. Kuliahnya selesai jam setengah dua. Ketika berjalan di koridor hendak menuju ke lift, sekali lagi dia bertemu Bobby  yang berjalan dari arah berlawanan.
“Uh…maaf Non, maaf !” Bobby  pura-pura meminta maaf saat setelah dengan sengaja menyenggol Joane.

Selain menyenggol, ternyata Bobby  juga dengan cekatan menyelipkan kertas kecil yang berisi catatan ke tangan Joane.
‘Saya tunggu di toilet pria di ujung lantai ini, ada yang perlu kita bicarakan, sesudah ini saya nggak akan mengganggu Non lagi’ demikian tulisnya.
Joane mendengus kesal dan meremas-remas kertas itu lalu membuangnya. Dia memutuskan lebih baik menemuinya saja supaya bisa pria itu puas dan tidak mengganggunya lagi, paling-paling toh yang dimintanya hubungan badan lagi, berikan saja lah sekali lagi dengan syarat ini yang terakhir kalinya, pikirnya. Maka ia tidak jadi ke lift turun dan berbalik menuju toilet yang dimaksud. Letaknya di sudut lantai ini sehingga agak terasing dan jam-jam segini sudah tidak banyak yang lewat situ. Di depan pintunya sudah terpasang plang ‘MAAF SEDANG DIBERSIHKAN’ yang telah dipasang Bobby . Dengan jantung berdebar-debar Joane membuka pintu itu, di dalamnya Bobby  telah menunggu sambil bersandar di tembok.
“Aahh, Non dateng juga akhirnya yah !” dia menghampiri Joane yang langsung membuang muka darinya.
“Cepat Pak, saya mau pulang, ini yang terakhir kalinya yah, kalau sampai Bapak ganggu saya lagi, awas !” hardik Joane sambil menundingkan jari pada Bobby  “Asal tau aja, malam itu tuh Bapak cuma saya anggap mainan tau” katanya dengan pedas.

“Hehe, ini kan salah Non juga yang bikin Bapak ketagihan sama servisnya, pokoknya sekarang kalau Bapak minta Non harus siap yah !” kata Bobby  sambil cengegesan.
“Jangan ngelunjak yah, Pak, emang Bapak ini siapa hah, dasar gak tau diri !” Joane makin marah mendengar kata-kata Bobby  itu, didorongnya tubuh Bobby  yang baru mendekapnya.
“Saya punya ini Non, kalau Non ga nurut Bapak bakal orbitkan Non jadi bintang bokep di kampus ini !” kata Bobby  sambil mengeluarkan ponselnya, lalu dia menyetel video klip yang ternyata berisi rekaman selama tigapuluh detik yang menampilkan adegan Joane sedang mengemut penisnya.
Kaget bukan main gadis itu melihat dirinya ada dalam rekaman itu, dia tidak menyadari bahwa dirinya direkam dengan kameraphone ketika sedang oral seks malam itu tanpa diketahuinya. Dalam rekaman itu jelas sekali wajahnya yang horny sedang mengulum sebatang penis hitam, kalau saja adegan itu tersebar terbayang olehnya apa yang terjadi. Walau bukan gadis suci tapi ini menyangkut reputasi dan privacy, tentu ini sangat merisaukannya.
“Kurang ajar !!! kesiniiin !” Joane menjerit dan berusaha merebut benda itu dari tangan Bobby .

Bobby  dengan gesit berkelit dan menepis tangan gadis itu, bahkan…plak ! plak ! dua kali tamparan dia daratkan di pipi gadis itu.
“Awww !!” jeritnya memegang pipinya yang nyeri kena tamparan.
Belum sempat mengangkat kepala, Bobby  sudah mencengkram lehernya dan memepetnya ke tembok.
“Heh, awas ya kalo teriak, habis lu !” ancamnya “mau rekaman ini nyebar!”
“Jangan…tolong, Bapak mau apa sebenernya ?” katanya gemetar.
“Dasar cewek nakal, pelacur kampus, sok jual mahal banget sih padahal udah kotor juga hah !” kata Bobby  dekat wajah gadis itu.
“Ampun Pak, saya-saya…” wajahnya mulai memelas karena takut
“Apa hah, saya-saya…heh tau gak yang jadi mainan itu bukan saya, tapi kamu tau, mulai sekarang kamu itu udah jadi budak seks saya ngerti !” sambil meremas keras payudara kanan gadis itu.
“Aduhhh…sakit…iya…iya…lepasin Pak, tolong !” rintihnya kesakitan.
“Baik sekarang denger, kalo saya lagi pengen ngentot Non harus apa ?” tanyanya dengan memelankan nada bicaranya dekat telinga Joane.
“Harus…harus…ngasih” jawabnya gemetar, matanya mulai berkaca-kaca.
“Nah, bagus kalo nggak gimana ?” tanyanya lagi

Joane menggeleng tidak tahu harus menjawab bagaimana, sebulir air mata menetes di wajahnya yang cantik.
“Hei…kalo ditanya jawab!” Bobby  mengeraskan lagi cengkeramannya pada payudara gadis malang itu.
“Ahhh…aduhh-duh…ga tau terserah Bapak aja !” rintihnya
“Hehehe…gitu dong baru anak baik, eh bukan, perek baik !” tawa Bobby  mengejek
Dilepaskannya cengkeraman pada leher Joane, tangannya merayap ke bawah menyelinap ke balik rok mininya lalu masuk lagi ke celana dalamnya.
“Gini enak kan?” kata Bobby  meraba-raba kemaluan Joane.
“Enak ga !? Kok malah nangis sih !” Bobby  mulai kesal dengan sikap Joane yang tidak bergairah seperti malam itu.
Dengan kasar didorongnya tubuh gadis itu ke dekat wastafel hingga dia menjerit kecil. Bobby  meraih tubuhnya dan menarik pinggang rampingnya hingga menungging, tangan gadis itu bertumpu pada meja wastafel yang di depannya ada cermin besar itu. Tangan Bobby  bergerak cepat menyingkap rok itu dan memeloroti celana dalam pink yang dipakainya hingga selutut. Kini pantat Joane yang membulat padat itu terpampang jelas di hadapan Bobby .

“Pantat yang bagus, bentuknya juga sempurna !” komentar Bobby  sambil menepuk-nepuk salah satu pantatnya.
Joane dapat melihat dengan jelas wajah menjijikan pria itu sedang mengagumi pantatnya melalu pantulan cermin di hadapannya, juga terlihat Bobby  dengan terburu-buru membuka celananya sendiri, mengeluarkan senjatanya yang siap ditembakkan
“Plak…” sebuah tamparan keras pada pantatnya membuatnya kaget dan menjerit.
Disusul sebuah benda tumpul memasuki vaginanya dari belakang, benda itu masuk dengan agak kasar lalu dihentakkan sehingga membuatnya tak bisa mengerang. Rasa nikmat sekonyong-konyong mulai menjalari tubuhnya. Tubuh Joane terguncang-guncang karena Bobby  begitu ganas menggenjotnya dari belakang. Joane sendiri terus terang juga merasakan nikmatnya, lebih dari malam itu, karena kali ini lebih kasar dan bernafsu. Tangan Bobby  menyusuk lewat bawah kaos hitamnya dan menyingkap sebuah cup branya, disana jari-jari kasar itu memilin-milin puting susunya. Dengus nafas Joane makin memburu, nampak dari wajahnya dia akan segera mencapai puncak. Tak lama kemudian, Joane merasa tubuhnya mengejang tanpa bisa ditahan lagi, cairan kewanitaannya meleleh membasahi daerah selangkangannya. Cerpen Sex

Pluk…Bobby  menarik penisnya dari vagina Joane, lalu tariknya rambut gadis itu sehingga merintih. Joane disuruh berlutut dan mengulum penisnya yang sudah belepotan cairan vaginanya.
“Ayo Non, servis mulutnya, yang enak yah kaya waktu itu !” perintahnya
Joane yang berpikir biar cepat selesai mulai menjilati penis itu dengan sapuan lidahnya yang profesional. Kemudian setelah melakukan cleaning service, digenggamnya batang itu dan diarahkan ke mulutnya. Bobby  mengerang nikmat merasakan hisapan-hisapan Joane pada penisnya, gadis ini memang sungguh ahli menyenangkan pria, gelitikan lidahnya pada kepala penisnya yang bersunat membuatnya menceracau minta terus dan lebih. Sekitar tiga menitan saja Bobby  sudah mengeluarkan maninya di dalam mulut Joane.
“Sedot…iyah gitu…ohhh !” lenguhnya sambil meremas rambut gadis itu.
Seperti malam itu, Joane kembali mempertunjukkan keahliannya mengisap penis yang klimaks, nampak dia berkonsentrasi menelan setiap tetes sperma yang keluar agar tidak tersedak atau meluber keluar mulut. Bobby  memejamkan mata meresapi klimaksnya, hisapan Joane serasa mengirimnya ke sorga. Joane pun akhirnya mengeluarkan batang itu dari mulutnya setelah tidak ada lagi cairan yang keluar. Dia sedikit terbatuk begitu melepas benda itu dari mulutnya.

Setelah gelombang orgasme reda, Bobby  menaikkan lagi celana panjangnya. Menyangka telah selesai, Joane juga ikut berdiri dan menaikkan kembali celana dalamnya yang nyangkut di lutut.
“Hei-hei, siapa yang suruh beres-beres !” sahut Bobby
“Lho, udah dong Pak hari ini, kan udah keluar !” protes Joane dengan wajah cemberut.
‘Plak !’ kembali telapak tangan Bobby  mendarat di pipinya “Masih berani protes ?!”
“Saya mau keluar dulu sebentar, Non tunggu disini aja, awas ya kabur !” ancamnya “Aahh…saya tau supaya mastiin Non ga kabur !” seringai licik terkembang di wajahnya sambil berjalan mendekati Joane yang memegangi pipinya yang terasa panas.
Dengan setengah paksa Bobby  mempreteli pakaian Joane satu-persatu hingga di badannya hanya tersisa sepatu hak, arloji, dan gelang kakinya saja. Kemudian Bobby  meninggalkannya di ruang itu dengan membawa serta pakaian dan tas gadis itu.
“Tunggu yah, kecuali kalau emang Non berani keluar dengan kondisi gitu hehehe !” pesan Bobby  sebelum keluar.

Tidak ada jalan keluar, Joane menjatuhkan dirinya terduduk di lantai di ujung toilet itu, kedua telapak tangannya menutupi wajah dan menangis terisak-isak. Tidak pernah disangkanya kalau keisengannya malam itu menjerumuskannya sedalam ini, dulu waktu di masih SMA memang dia pernah melakukan hal serupa dengan satpam sekolahnya, tapi si satpam itu tidak punya cameraphone yang bisa digunakan untuk memerasnya. Dia lalu mengangkat wajah melihat sekeliling, toilet itu memang bersih, lantai dan dindingnya berlapis marmer dan klosetnya juga masih bagus karena memang ruang ini baru saja direnovasi dua bulan yang lalu. Dia berdiri dan melihat ke cermin bayangan dirinya tanpa busana. Diperhatikannya payudara kanannya nampak agak merah, masih terasa sakit dan nyut-nyutan akibat remasan brutal Bobby  tadi. Dibukanya kran air untuk mengambil air membersihkan vaginanya yang lengket sisa persetubuhan juga untuk berkumur menghilangkan aroma sperma yang masih terasa di mulutnya. Kemudian dia duduk meringkuk di tempat tadi memeluk dirinya sendiri menahan dinginnya angin dari ventilasi menerpa tubuh polosnya. Benar-benar bingung memikirkan apa yang harus dilakukan saat itu, di ruang itu tidak ada satupun benda yang bisa dipakai menutupi tubuhnya, tidak mungkin dia bisa kabur dengan keadaan polos begitu, dia hanya berharap Bobby  secepatnya kembali dan melepaskannya.

Tiba-tiba pintu terbuka dan Bobby  masuk sambil senyum-senyum.
“Mana barang-barang saya Pak, kapan saya boleh pulang ?” tanya Joane melihat Bobby  tidak membawa baju yang tadi disitanya.
“Tenang, sabar aja Non, ntar juga Bapak kembaliin kok” kata Bobby  sambil menyingkirkan tangan Joane yang menyilang menutupi dadanya “maaf yah nunggu lama, Non pasti kedinginan yah”
Bobby  mendekap tubuh Joane dari belakangnya, tangannya memijat-mijat payudaranya dan tangannya yang lain turun ke bawah mengelusi kemaluannya. Joane merasa pelukan Bobby  ditambah sentuhan-sentuhan erotisnya menghangatkan tubuhnya dan membuatnya lebih nyaman, Bobby  juga menjulurkan lidahnya menjilat daun telinganya sehingga nafsu gadis itu mulai naik lagi
“Udah hangat kan Non, enak ?” tanya Bobby  dekat telinganya yang dijawab gadis itu dengan mengangguk “Kalau mau lebih hangat Bapak juga udah siapin kok Non, Oiii…masuk !!”
Seruan itu membuat Joane yang sudah terbuai hingga matanya terpejam terkejut dan membelalakan matanya karena pintu terbuka lagi dan masuklah beberapa orang pria, yang satu berpakaian satpam dan empat lainnya berpakaian lusuh dan salah satunya bertopi pet.

Yang berpakaian satpam itu tidak lain adalah si satpam kampus yang pernah ikut memperkosa Vonny bersama Bobby  (sex in campus 6), sedangkan empat lainnya adalah tukang-tukang becak yang biasa mangkal di sekitar kampus. Rupanya barusan Bobby  keluar untuk mengajak si satpam berbagi kenikmatan, dan kebetulan saat itu dia sedang main catur dan ngobrol-ngobrol dengan tukang becak yang sedang mangkal, maka sekalian juga dia ajak mereka sekalian memberi hukuman pada Joane karena lancang mengatakannya hanya sekedar mainan, ajakan itu langsung disambut antusias oleh mereka. Mata mereka semua seperti mau copot melihat keindahan tubuh Joane.
“Wah-wah Ron lu emang pinter milih barang, gua bisa awet muda kalau lu kasih ginian terus” kata Pak Mahmud.
“Uhuy, mimpi apa gua semalem bisa dapet yang bagus gini !”
“Gile tuh cewek, cakep banget, mana bodynya seksi gitu, liat tuh jembutnya lebat gitu !”
“Akhirnya gua bisa juga dapet kesempatan ngentot anak kuliahan nih !”
Mereka begitu kegirangan dan berkomentar macam-macam mendapat kesempatan langka seperti itu. Joane jadi panik dan tegang membayangkan dirinya akan segera menjadi bulan-bulanan orang-orang kasar seperti mereka, dia meronta berusaha melepaskan diri tapi dekapan Bobby  terlalu kuat mengunci dirinya.

“Pak, apa-apaan ini, lepaskan saya, tolong !” ucapnya panik sambil meronta.
“Hehehe, soalnya saya kasian Non tadi kedinginan, makannya saya bawain mereka buat ngehangatin Non, sekalian supaya Non tau kalau lain kali berani macem-macem gini hukumannya !” kata Bobby  dekat telinganya.
“Jangan…jangan, lepasin saya Pak !” suara Joane makin bergetar melihat kelima pria itu makin mendekati dan mengerubunginya, beberapa diantaranya mulai melepas bajunya.
Bobby  mengangkat kedua tangan Joane ke atas dan memegangi kedua pergelangan tangannya, dengan begitu dadanya kelihatan makin membusung.
“Toked yang montok, gua suka yang gini, udah padat empuk lagi !” sahut Pak Mahmud  sambil meremas payudaranya.
Salah seorang tukang becak yang giginya tonggos meraih payudara sebelahnya dan menghisapinya, si tonggos itu dengan gemas menyentil-nyentilkan lidahnya pada puting Joane sambil sesekali digigit dengan giginya yang nongol itu. Enam pasang tangan-tangan kasar itu mulai menggerayangi tubuh mulus gadis itu, belaian dan remasan dirasakan terutama di dada, paha, dan pantatnya, ada yang memasukkan jari dan mengorek-ngorek vaginanya, ada yang berjongkok sedang menjilati pahanya, Bobby  sendiri dari belakangnya sedang mengerjai daerah leher dan telinga, rambutnya yang pendek memudahkan Bobby  menjilati dan mencupang leher jenjangnya, sapuan lidah Bobby  pada telinganya sungguh menggoda libidonya.

Joane memang sempat ketakutan, namun kini dia mulai terangsang karena daerah-daerah sensitifnya tidak ada yang luput dari jamahan mereka. Bibirnya mulai terbuka dan membalas lumatan bibir Pak Mahmud , lidahnya beradu saling beradu dengan panas dengan si satpam itu. Bobby  sudah melepaskan pergelangan tangannya setelah yakin gadis ini sudah takluk dan tidak berontak lagi. Tangan gadis itu kini sedang memijati penis salah satu tukang becak yang bertubuh gempal. Selesai berciuman dengan Pak Mahmud , tukang becak tonggos di sebelahnya menarik wajahnya dan langsung melumat bibirnya sebelum dia sempat mengambil udara segar. Tiba-tiba dia merasakan ada basah dan geli di vaginanya, rupanya di bawah sana ada seorang tukang becak sedang berjongkok dan menjilati vaginanya. Dia menaikkan pahanya ke pundak tukang becak berumur 40-an itu sehingga pria itu lebih leluasa menyedot vaginanya.
“Oohhh…!” desahan menggoda terdengar dari mulutnya, matanya terpejam menikmati setiap jamahan yang mempermainkan hasratnya.
Gangbang, memang bukan pertama kalinya bagi Joane karena dia pernah merasakannya di pesta-pesta pribadi dengan temannya, namun baru kali ini dia melakukannya dengan orang-orang kasar dan kelas bawah seperti mereka. Tidak seperti teman-temannya yang biasa bermain lembut, gaya para tukang becak ini sangat primitif, mereka seperti binatang lapar yang baru mendapat makanan lezat sehingga mainnya lumayan kasar, ,misalnya seorang tukang becak yang mengenyot kuat-kuat dan menggigit putingnya sehingga membuatnya meringis dan meninggalkan bekas gigitan di kulit putih itu.

Pak Mahmud  menarik pinggang Joane dari belakang hingga menungging lalu mulai menjejali penisnya ke vaginanya. Disaat yang sama, tukang becak yang bertubuh gempal itu menyuruhnya mengoral penisnya. Kini posisi Joane sedang disodok dari belakang sambil menunduk sembilan puluh derajat dan mengulum penis si tukang becak gempal di depannya, dia memakai tangannya melingkari pinggang lebar pria itu untuk menyangga tubuhnya.
“Wah, liat nih susu gantung oi, pengen minum dari susu gantung ah !” sahut seorang tukang becak kerempeng berkumis tipis seraya meraih buah dada Joane yang bergelayutan lalu mengisapnya dengan gemas, persis seperti anak sapi menyusu dari induknya.
Setelah sekitar sepuluh menit menyetubuhi Joane, Pak Mahmud  merasa sudah mau keluar. Dia makin ganas menyodok-nyodokkan penisnya hingga tubuh Joane makin terguncang, badannya lalu menegang dan sambil mengerang nikmat, dia berejakulasi di rahim Joane.
“Uuhh…asli uenak, jaminan mutu !” kata Pak Mahmud  terengah-engah “ayo, siapa nih sekarang !” dia mencabut penisnya dan memberi giliran pada teman-temannya.
Sebelum didului yang lain, tukang becak gemuk yang dioral Joane segera melepaskan penisnya dari mulut gadis itu lalu mengangkat dan mendudukkannya di meja wastafel marmer itu.

“Aahh…!” erang Joane saat si gemuk itu menanamkan penisnya yang tidak terlalu besar namun diameternya lebar.
Si tukang becak itu mulai mengocok vagina Joane sambil berdiri. Gadis itu merem-melek merasakan tusukan-tusukan keras pada vaginanya serta tangan-tangan yang menggerayangi tubuhnya. Akhirnya dia tidak tahan lagi, tubuhnya mengejang menandakan klimaks sambil mengeluarkan desahan panjang. Si tukang becak gemuk juga menyusul tak lama kemudian, pria itu menggeram dan menekan penisnya lebih dalam ke vagina Joane, spermanya menyembur di dalam sampai meluap keluar membasahi tepi meja wastafel yang diduduki gadis itu. Ketika sedang menikmati orgasmenya, tiba-tiba seseorang maju mengambil giliran berikutnya, orang itu adalah si tukang becak tonggos, dia sudah nafsu sekali karena mendengar desahan gadis itu dan menonton goyangannya.
“Turunin aja ke lantai Mat, biar bisa bareng-bareng makenya !” sahut salah seorang dari mereka.
Si tonggos yang mereka panggil Mat itu pun lalu selonjoran di lantai, diaturnya tubuh Joane yang masih agak lemas menduduki penisnya. Dia memegang batang penisnya agar terarah ke liang vagina Joane dan dia bimbing gadis itu menurunkan tubuhnya hingga penisnya amblas dalam vaginanya.

“Ah, enak Non, hangat dan seret biar udah ga perawan” katanya menikmati penisnya tertelan vagina Joane.
Si tonggos itu memulai dulu dengan menyentakkan pinggulnya ke atas sehingga Joane tidak tidak bisa tak mendesah.
“Ayo Non, ngebornya dong !” perintahnya.
Joane mulai menaik-turunkan tubuhnya di atas penis si tonggos, sesekali dia melakukan gerakan memutar sehingga batangan itu mengaduk vaginanya, payudaranya juga ikut bergoyang-goyang seirama goyangannya. Pria lainnya juga berdiri mengelilingi dirinya, ukuran penis mereka yang besar-besar dan hitam itu sempat membuatnya terpana. Penis-penis itu mengacung padanya menanti dikocok, dielus dan dioral. Walaupun situasinya tidak menguntungkan tapi terus terang dia juga merasakan sensasi yang lain dari biasanya, disini dia bisa mengekspresikan hasrat terliar dalam dirinya. Tanpa malu-malu lagi, dia menggenggam penis salah seorang tukang becak berumur tigapuluhan yang cukup panjang, dijilatinya penis itu pada kepalanya sehingga pemiliknya blingsatan, tangan satunya juga meraih penis lain dan mengocoknya perlahan
“Wahh…gila jilatannya kaya surga !” komentar pria yang sedang dijilati kepala penisnya itu.
“Kocokannya juga sip, jari-jarinya halus gini, hoki banget bisa main sama anak kuliahan nih” timpal yang satunya yang kerempeng dan berusia setengah baya itu. Cerpen Sex

Selama lima menitan dia melayani penis-penis yang ditodongkan padanya secara bergantian dengan mulut dan tangannya, dua orang diantaranya memuntahkan isi senjatanya karena sudah tidak tahan, yang satu muncrat di dalam mulutnya namun meluber keluar karena sempat tersedak, orang yang lainnya menyemprot dalam kocokan tangannya sehingga cairan itu membasahi pipi kanan dan lehernya.
“Oi-oi gua bosen ngerasain tangannya aja, tuh kan lubang satunya masih nganggur, permisi dong !” sahut si tukang becak yang bertopi pet.
Kemudian dia meminta Joane berhenti sejenak dan dinaikkannya sedikit pantatnya agar bisa menyerang secara anal.
“Pelan-pelan Pak, saya takut !” kata Joane yang agak tegang waktu pria itu akan menganalnya.
“Sabar Non, tahan dikit, ntar kesananya enak kok !” kata pria itu sambil menekan penisnya ke anus Joane.
Rintihan terdengar dari mulutnya saat proses penetrasi, akhirnya masuk juga berkat bantuan cairan kewanitaan dan ludahnya. Kedua pria itu mulai menggenjotnya lagi, desahan Joane makin menjadi karena dua lubangnya digarap dalam waktu bersamaan. Dari bawahnya si tonggos juga mempermainkan payudaranya sambil menikmati enaknya pijatan vaginanya.

Tiba-tiba seseorang menjambak rambutnya dan dengan setengah paksa menjejali mulutnya dengan penis, Joane menggerakkan bola matanya ke atas dan melihat orang itu adalah Bobby .
“Hehehe…asyik kan Non main keroyokan kaya gini !” ejeknya sambil menggerakkan pinggulnya menyetubuhi mulut gadis itu.
Tubuh Joane makin basah bukan hanya karena keringatnya sendiri tapi juga keringat para pria yang menggumulinya ditambah ludah dan sperma.
“Eemmhh…mmm…nggg !” suara erangan Joane tertahan oleh penis Bobby  sementara tubuhnya menggeliat-geliat merasakan sodokan-sodokan kedua penis pada dua lubang bawahnya.
Si tonggos makin ganas meremasi payudaranya karena sudah diambang klimaks.
“Uhh…uuhh…!” desahnya merasakan penisnya makin berdenyut-denyut di antara jepitan vagina Joane “Uaahh…asiikk !” desahnya lebih panjang sambil menyentakkan pinggulnya ke atas dan menyemburkan spermanya dalam rahim gadis itu.
Si tonggos mencabut penisnya dan menyusup keluar lewat bawah. Di selangkangan Joane nampak berlelehan cairan putih susu yang sudah memenuhi vaginanya. Sementara si tukang becak bertopi juga menyusul tiga menit kemudian, sempitnya dubur Joane yang jarang dipakai anal mempercepat klimaksnya. Pria itu mencabut penisnya dan menyemprotkan isinya membasahi pantat gadis itu.

Demikian selanjutnya keenam pria itu bergiliran menggarap Joane selama lebih dari sejam. Mereka berpesta-pora dengan tubuh mulus gadis itu yang mereka anggap ‘berkah’ yang tidak mudah didapat, sehingga harus dinikmati sepuas-puasnya. Joane sendiri dengan pasrah melayani nafsu bejat mereka, bahkan bisa dibilang menikmatinya, berkali-kali pula gelombang orgasme melandanya. Ketika dia sudah hampir pingsan kelelahan, Bobby  mengambil ember berisi air dari salah satu toilet disitu dan menyiramkan padanya. Air dingin itulah yang memberinya sedikit kesegaran dan mengembalikan kesadarannya sekaligus membersihkan tubuhnya yang sudah lengket-lengket. Mereka kembali menggarapnya selama beberapa saat ke depan lagi, setelah semuanya kenyang dengan santapan birahi, satu-persatu dari mereka mulai meninggalkannya terbaring bugil dengan tubuh basah kuyup di lantai marmer. Bobby  kembali tak lama kemudian membawa pakaian dan barang-barangnya. Dia lemparkan selembar handuk lusuh padanya.
“Nih, lap badan sana, pulang istirahat, lain kali kalo diajak nurut yah kalau ga mau dikerjain rame-rame kaya tadi hehehe !” kata Bobby  sambil tertawa sinis “Jangan lupa matiin lampu yah kalau mau pergi, Bapak pergi dulu mau beresin kerjaan di bawah !” ingatnya sebelum keluar dari ruang itu.
Setelah mengumpulkan cukup tenaga, Joane berusaha bangkit walau rasa perih dan pegal masih mendera tubuhnya. Dia lalu membersihkan noda-noda sperma yang menyiprat di tubuhnya dan mengeringkan tubuhnya dengan handuk yang diberikan Bobby .


Setelah membenahi diri dan mengenakan kembali pakaiannya, diapun bergegas keluar dari tempat itu. Hari sudah sore saat itu dan jam sudah menunjukkan jam lima kurang duapuluh menit. Dengan langkah tertatih-tatih dia berjalan menyusuri koridor yang sudah sepi itu menuju ke lift. ‘Ting !’ lift tiba dan membuka pintunya, ternyata di dalamnya sudah ada dua orang, satu berpakaian satpam dan satunya berpakaian tidak terlalu rapi dengan handuk kecil tergantung di lehernya.
“Ah, kita belum terlambat ternyata, ini kan orangnya Cep ?” tanya pria yang lehernya berhanduk itu pada satpam bernama Encep itu.
“Iya, iya pasti ga salah lagi kata si Mahmud  juga rambut pendek, ga terlalu tinggi” jawabnya pada temannya.
Sebelum menyadarinya, tiba-tiba mereka menarik paksa gadis itu ke dalam lift, setelah pintu lift menutup si satpam memencet tombol stop hingga lift itu berhenti. Di dalam lift, Joane kembali ditelanjangi dan dipaksa melayani nafsu bejat kedua orang yang adalah satpam yang menggantikan Pak Mahmud  berjaga selama mengerjainya tadi, sedangkan satunya adalah tukang becak yang disuruh menjaga becak rekan-rekannya yang baru selesai berpesta. Joane sudah terlalu lelah untuk melawan, dia terpaksa pasrah saja melayani mereka dan memberikan pelayanannya yang terbaik agar mereka cepat puas dan dirinya segera bebas.

Hari itu Joane diperkosa total oleh delapan orang, satu pengalaman tergila sepanjang kehidupan seksnya. Sampai di rumah dia langsung merendam tubuhnya di bathtub, kepenatan tubuhnya berangsur-angsur reda, air hangat memberi kenyamanan baginya setelah seharian penuh digilir oleh delapan pria secara brutal. Sebutir air mata menetes dari pinggir matanya yang indah sebagai ekspresi dari perasaan campur aduk yang dialaminya. Siang tadi barulah awal petualangannya menjadi budak seks Bobby , si penjaga kampus bejat yang masih akan berlanjut, nampaknya dia harus membiasakan diri menikmati kehidupan barunya itu.

Repost By : www.dewasahot17.com - Kumpulan Cerita Dewasa | Cerita Sex | Cerita Ngentot. Sobat bisa membaca cerita Panas lainnya di website ini, karena di website ini tersaji kumpulan cerita HOT terbaik dan selalu update setiap harinya. Baca artikel referensi lainnya di bawah ini.

kumpulan cerita seks terbaru foto cewek bugil, abg bugil, ngentot memek janda, tante girang nakal, gadis perawan bispak